Santi Damparan, Santri Langka di Era Digital

Benar, di Indonesia ada 42.300 pesantren lebih. Setelah Jawa Barat, provinsi kedua terbanyak adalah Jawa Timur dengan 7.347 pondok beridiri. Data ini dikeluarkan secara resmi oleh Kementrian Republik Indonesia di penghujung tahun 2025. Kalaupun, data itu akan terus diperbarui dan bisa fluktuatif. Yang pasti, jumlahnya lebih besar, karena banyak pesantren tidak terdata di atau mendaftar Kemenag. Khususnya pesantren yang ada jauh di pelosok desa.

Kalau mau dikalkulasi dengan mudah, anggap saja 7000 pesantren di Jatim, tentu akan ada puluhan ribu ustadz-ustadzah, dan ratusan ribu santri yang tersebar di 29 kabupaten dan 9 kota di seluruh wilayah Jawa Timur. Dataloka.id mencatat, santri aktif di Jawa Timur tahun 2025-2026 kisaran di angka 200-300 ribu santri. Kalau dijumlah dengan alumni? bisa jutaan, bahkan prosentrasi alumni pesantren di Jatim bisa menyentuh angka 50% lebih dari total penduduk, bila melihat budaya dan tradisi kesantrian yang sangat kuat di wilayah ini. Kalau ini benar, jatim adalah "provinsi santri'.

***

Dampar dan Kitab Kuning bagi Santri

Dalam Undang-Undang No. 18 tahun 2019 tentang Pesantren telah didefinisikan bahwa kitab kuning adalah kitab keislaman berbahasa Arab atau kitab keislaman berbahasa lainnya (menggunakan tulisan pegon) yang menjadi rujukan tradisi keilmuan Islam di pesantren.

Kitab kuning atau disebut kitab gundul (tulisan bahasa Arab tidak berharakat) selama ratusan tahun telah menjadi kurikulum utama di pesantren nusantara. Kitab klasik itu berisi pokok ajaran Islam, seperti seperti Nahwu Sharaf (Gratikal Bahasa Arab), Fiqh (hukum Islam), Tauhid (akidah), Akhlak (etika/moral), Tafsir (penafsiran Al-Qur'an), Hadis, dan ilmu keislaman lainnya.

Di pesantren salafiyah, kitab kuning diajarkan dengan dua metode, pertama sorogan, dimana santri satu persatu menghadap Kiai atau ustadz dengan membawa kitab, membacanya, menjelaskan, kemudian sang guru melakukan koreksi. Kedua, bandongan, semua santri berkumpul menghadap kiai. Sang kiai membaca kitab, memaknainya dan menjelaskan artinya. Sementara para santri menyimak dan memberi makna setiap kalimat (makna gandul).

Saking tidak bisa dipisahkannya kitab kuning dengan santri, di seluruh pesantren salafiyah, santri bisa membaca kitab adalah syarat mutlak untuk lulus sekolah. Maka dari itu, di banyak kesempatan dikatakan, kesuksesan santri ketika di pondok adalah bisa membaca kitab kuning (kitab gundul).

Kemahiran santri dengan gramatikal Arab kerap membuat decak kagum dunia internasional, banyak santri yang tidak pernah belajar ke Arab justru menulis karya berbahasa Arab dan dikaji oleh dunia akademik timur tengah. Salah satu 'Kiai Kampung' yang tersohor adalah Syaikh Ihsan Jampes, Sirojut Thalibin karya beliau dikaji di banyak universitas luar negeri, salah satunya universitas tertua di dunia, Al Azhar Mesir.

***

Jutaan Santri dan Kitab Kuning di Publik

Ala kulli hal, di tengah data yang fantastis dan harum nama santri di dunia internasional, bila melihat keadaan sekarang bisa dikatakan tidak seimbang. Yang saya rasakan, yang saya lihat, sepanjang pengamatan sederhana saya, justru di lapangan atau di ranah publik ngaji atau pengajian kitab kuning tidak semarak yang dibayangkan, malah mulai memudar. Ada, tapi bila dibangdingkan dengan data di atas, bisa terhitung 1 banding 1000.

Lembaga Bahtsul Masail (LBM) 'hanya semarak' di pesantren-pesantren yang bisa dihitung jari, itupun, tidak setiap hari dan mungkin setahun sekali. Dan, diikuti hanya oleh santri aktif, terkesan 'kalangan eksklusif'. Bila LBM diadakan di luar pesantren dan melibatkan alumni? kegiatan diskusi keilmuan dan pendalaman kitab kuning ini amat tidak diminati, sebut saja di wilayah saya sekarang, Kecamatan Babat, mohon maaf sekali, bahwa ada ribuan alumni dari banyak pesantren, tapi ketika acara LBM, pesertanya bisa dihitung jari. La Haula wala Quwata illa Billah...

***

'Selebritas' Kaum Santri

Di era digital, santri dan pesantren dengan tradisi kitabnya mungkin berada di persimpangan jalan. Seharusnya, santri dan pesantren tetap dengan ciri khasnya, melestarikan tradisi 'santri damparan' yang sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Perkembangan teknologi justru kesempatan untuk menjadikannya alat guna branding tentang 'marwah' santri dan pesantren, sebagai kalangan pengkaji keilmuan Islam yang keren.

Bila kalangan santri 'terbuai' atas nama beradaptasi dengan kemajuan digital, dengan serta merta melupakan jati diri sebagai kalangan cendekia yang punya sanad keilmuan bersambung kepada Rasulullah SAW, amat sangat disayangkan. Tampil modis dengan stylish terkeren, oke, bebas, dan boleh saja. Tapi, kalau itu membuat santri 'terjebak' di dunia 'selebritas' dan meninggalkan ngaji serta kitab kuning, itu baru 'bermasalah'. inna lillahi wa inna lillahi rajiun...

Akankah, santri damparan dengan utawi iki iku itu mulai langka? Wallahu A'lam bis shawab...

Almaghfurlah Sayikh Hasani Nawawie, PP Sidogiri Pasuruan pernah menjelaskan tentang makna santri, teks Arab dan artinya adalah:

السنتري: بِشَاهِدِ حَالِهِ هُوَ مَنْ يَعْتَصِمُ بِحَبْلِ اللهِ اْلمَتِيْنِ وَيَتَّبِعُ سَنَّةَ الرَّسُوْلِ اْلاَمِيْنِ صَلىَّ اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

وَلاَ يَمِيْلُ يُمْنَةً وَلاَيُسْرَةً فِىْ كُلِّ وَقْتٍ وَحِيْنٍ هَذَا مَعْنَاهُ بِالسِّيْرَةِ وَالْحَقِيْقَةِ لاَ يُبَدَّلُ وَلاَيُغَيَّرُ قَدِيْمًا وَحَدِيْثًا

وَاللهُ اَعْلَمُ بِنَفْسِ اْلاَمْرِ وَحَقِيْقَةِ اْلحَالِ 

“Santri berdasarkan peninjauan tindak langkahnya adalah orang yang berpegang teguh dengan al-Quran dan mengikuti sunnah Rasul serta teguh pendirian. Ini adalah arti santri bersandar sejarah dan kenyataan yang tidak dapat diganti dan diubah selama-lamanya. Dan Allah-lah Yang Maha Mengetahui atas kebenaran sesuatu dan kenyataannya.”

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Santi Damparan, Santri Langka di Era Digital"