Bangkalan, Kota Santri yang "Berisik"
![]() |
Masjid Syaikhona Kholil, Martajasah |
Sekitar 494 tahun lalu, tepatnya 12 Rabul Awal 938 Hijriyah atau bertepatan dengan 24 Oktober 1531 Masehi, di tanah Bang Kulon (Nama awal Bangkalan yang berarti; Kerajaan Madura Barat) hidup sosok raja agung yang memimpin Keraton Pelakaran menuju puncak keemasan.
Pangeran Pratanu, ia bersama Empu Bageno nyantri kepada Sayyid Ja'far Shodiq atau Sunan Kudus. Ada versi lain mengatakan bahwa Pangeran Pratanu belajar Islam dari Empu Bageno, Patih Kerajaan Plakaran yang mengaji langsung kepada Sunan Kudus.
Setelah bertahta menggantikan Raja Pragalbo, Pangeran Pratanu bergelar Panembahan Ki Lemah Duwur. Pada masa pemerintahan beliaulah, Kerajaan Pelakaran berada di puncak kejayaan. Kalau boleh dikatakan, Madura barat waktu itu adalah Baldatun Thayyibah wa Rabbun Ghafur. Subahanallah sekali.
Di bawah kepemimpinan Ki Lemah Duwur, Arosbaya dengan lokasi strategis di pesisir barat pulau Madura disulap menjadi pusat kegiatan pelayaran dan niaga. Tidak lama, Keraton Pelakaran menjadi salah satu kerajaan abad 15 akhir yang berkembang pesat sebagai penguasa poros maritim di selat Madura bagian barat.
Tidak hanya ekonomi pemerintahan yang maju dan rakyatnya makmur,
Ki Lemah Duwur merupakan tokoh utama penyebar Islam terbesar di zamannya. Di
masa kerajaanya, ia seorang raja yang pertama kali membangun masjid tempat
ibadah dan pusat pendidikan. Masjid Besar Arosbaya yang berdiri megah sampai
sekarang itu, menjadi monumen kesejahteraan rakyat dan Islam sebagai agama
utama.
***
Latah dengan Media Sosial
Sekarang, 500 tahun kemudian, minggu kemarin ketika saya pulang menginjakkan kaki di tanah para raja ini, seliweran di media sosial begitu banyak suara menyebut nama Bangkalan. Bukan tentang sejarah atau semarak keilmuan dari puluhan ribu santri di ratusan pesantren, tapi, jubelan komentar menyesakkan dari belakang layar ponsel itu, dengan serampangan menilai Bangkalan, menghakimi, bahkan memvonis, seolah-olah ia adalah sebuah tayangan live tanpa jeda iklan.
Bangkalan satu bulan terakhir terasa seperti sebuah amfiteater terbuka, namun tanpa penonton fisik. Ia bergerak, bernapas, dan menjalani hari-harinya di bawah tatapan ribuan mata digital yang tidak pernah benar-benar hadir. Seperti biasa, suara-suara tanpa perasaan itu datang bergema dari kejauhan. Suara yang berasal dari jempol-jempol asing yang mengetik kalimat tajam di kolom komentar, atau mereka yang terlalu percaya diri tampi di depan kamera layaknya seorang saksi kunci yang melihat langsung.
Prihatin sekali, ketika banyak dari mereka adalah kelompok yang kerap aji mumpung nimbrung di tengah keramaian media untuk menaikkan akunnya dengan cara aneh, membuat konten dengan narasi opini pribadi tanpa data valid, serta para saksi palsu yang dengan yakin telah mengikuti setiap detik kejadian. Padahal, yang mereka telan hanyalah potongan video dari potongan video orang lain, narasi serampangan yang diolah sekenanya, dan kesimpulan yang tergesa-gesa. Sumbernya? Katanya. Aneh murakkab!
Mereka bukan warga setempat, bukan tetangga juga. Keluarga yang bersangkutan? Sama sekali bukan!. Sebagian besar hanyalah penumpang lewat yang kebetulan mampir ke keramaian virtual. Mereka datang dengan lagak semangat yang sesaat, menjatuhkan vonis moralitas, lalu pergi begitu saja, meninggalkan jejak panas dan perih di permukaan. Mereka tidak akan atau perlu tinggal serta tidak peduli melihat dampaknya. Tanpa rasa simpati dan sembrono, tidak memikirkan konsekuensi dari kata-kata, konten, dan semburat negatif yang dilempar di media sosial.
Mereka adalah legiun tak kasat mata yang dengan tiba-tiba, setiap orang menjadi seorang ahli: berkomentar seperti pakar sosiologi yang mengupas akar masalah, berteriak dan marah seperti korban langsung yang terluka, menuduh dengan lantang seperti penyidik utama yang memegang bukti kuat.
Sekali lagi, inilah yang paling menusuk: katanya. Sumbernya bukan fakta yang diverifikasi dan tabayun, bukan kesaksian yang bertanggung jawab, melainkan bubur informasi yang dimasak dari cuplikan pendek yang diambil di luar konteks, potongan screenshot yang dipotong di tengah kalimat, dan bumbu-bumbu emosi yang ditambahkan oleh orang yang entah siapa dan apa kepentingannya.
Kebenaran, di tangan mereka, menjadi barang yang fleksibel, dapat dibengkokkan sesuai framing yang paling menarik perhatian. Yang mereka cari bukan solusi, melainkan engagement: tawa, kemarahan, atau validasi atas pandangan pribadi mereka. Tidak lebih dari makelar jalanan, yang penting jualannya laku.
Ironis, dan sungguh disayangkan sekali. Dalam lautan informasi yang membanjiri, justru banyak yang tertipu dan percaya bulat-bulat pada kabar burung yang tidak memiliki dasar pijakan, pada informasi yang tidak bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Kepercayaan diletakkan pada tangan-tangan anonim daripada pada realitas yang nyata.
Parahnya, informasi palsu ini tidak berhenti sebagai kesalahan semata. Ia diubah menjadi plesetan yang merendahkan, dijadikan bahan olok-olok dan meme yang tidak lucu. Tawa kolektif pun pecah, menjadi jokes pengisi waktu tak bermanfaat. Tanpa tahu dan peduli, di balik tawa receh itu, ada luka yang tidak terasa menyakitkan banyak pihak.
Berita receh yang seharusnya hanya menjadi gumaman kecil di sudut media, kini pecah di ruang maya dan membuncahkan fitnah di dunia nyata, dikipasi oleh emosi dan engagement, menjadi drama besar yang tidak proporsional.
Pada akhirnya, yang tersisa hanyalah serekan fitnah dimana-mana.
Kabar burung yang tidak berdasar itu kini membentuk citra, menjadi vonis
permanen yang melekat pada satu pihak, satu komunitas, satu keluarga, satu
gelar yang seharusnya dihotmari, satu nama tentunya, Bangkalan.
***
Tidak terasa, saya, Anda, mereka dan kita semua terjebak di
lautan ghibah dan mengumbar keburukan orang lain, atau malah menebar fitnah.
Berkenaan dengan hal ini, Allah Subhanahu wa Taala memberikan peringatan dalam
Al-Qur’an:
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ
ءَامَنُوا۟ ٱجْتَنِبُوا۟ كَثِيرًا مِّنَ ٱلظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ ٱلظَّنِّ إِثْمٌ ۖ
وَلَا تَجَسَّسُوا۟ وَلَا يَغْتَب بَّعْضُكُم بَعْضًا ۚ
أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَن
يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ ۚ إِنَّ
ٱللَّهَ تَوَّابٌ رَّحِيمٌ
"Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sesungguhnya sebagian dari prasangka itu adalah dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan dan aib orang lain dan janganlah kamu menggunjing (ghibah) sebagian yang lain. Apakah seseorang dari kamu suka memakan daging saudaranya yang telah mati? Maka sudah tentu kamu jijik kepadanya. (Oleh karena itu, jauhilah larangan-larangan yang tersebut) dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang." (QS Al-Hujurat: Ayat 12)
Ibnu Mundzir yang bersumber dari Ibnu Juraij meriwayatkan bahwa ayat ini (QS al-Hujurat: 12) asbabun nuzulnya berkenaan dengan peristiwa salah seorang sahabat bernama Salman Al-Farisi yang bila selesai makan, suka terus tidur dan mendengkur. Pada waktu itu ada orang yang menggunjing perbuatannya. Maka turunlah QS al-Hujurat ayat 12 yang melarang seseorang mengumpat dan menceritakan aib orang lain.
Selaras dengan larangan Allah SWT tersebut, Rasulullah SAW juga
melarang mengumbar aib orang lain. Sebagaimana sabdanya:
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ
الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا تَحَسَّسُوا وَلَا
تَبَاغَضُوا وَكُونُوا إِخْوَانًا
“Jauhilah oleh kalian prasangka, sebab prasangka itu adalah ungkapan yang paling dusta. Dan janganlah kalian mencari-cari aib orang lain, jangan pula saling menebar kebencian dan jadilah kalian orang-orang yang bersaudara” (HR Bukhari).
***
Tanah Bangkalan, Tanah Berkah
Ala kulli hal, kalaupun merasa agak percuma membeberkan beberapa ayat dan dalil keagamaan, riuh media sosial seharusnya bisa disederhanakan, lebih sejuk dan tampil layaknya orang-orang berpendidikan. Proses hukum saja, laporkan bila ada kesalahan yang dilakukan, sekali lagi, seharusnya dilakukan dengan cara elegan dan tidak berisik hingga menyeret banyak pihak, penafsiran kacau yang sembarangan, serta framing opini yang serampangan.
Berlarut-larut ribut media sosial di ranah Bangkalan sama sekali tidak bijak, atau mohon maaf saya katakan kampungan. Kalau riuh itu dimunculkan oleh orang dalam sendiri, warga Bangkalan sendiri, amat kecewa, perih dan menyedihkan. Apa Anda tidak merasa, sedang "membuang sampah" di rumah sendiri? Perilaku baik? Ah, saya ragu mengiakan.
Padahal, beberapa saat lalu, Bangkalan sedang dalam suasana haru dan suka cita menggelar prosesi tasyakuran Nyelase Agung, penghormatan akbar ini wujud syukur atas dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional pada 10 November 2025 melalui Keputusan Presiden No. 116/TK/2025 kepada ulama kharismatik, Syaikhul Masyayikh ulama nusantara, guru bangsa cahaya ilmu internasional dari tanah garam, Syaikhona Muhammad Kholil bin Abdul Latif Al Bangkalani.
Ribuan orang dari kalangan santri, masyarakat umum, hingga pejabat turun ke jalan, bersama-sama jalan kaki dalam kirab menuju Maqbaroh Syaikhona Muhammad Kholil di Martajesah. Sepanjang prosesi, suasana khidmat tercipta ketika lantunan nadhom Alfiyah Ibnu Malik menggema bergantian dari barisan peserta. Kirab ini tidak hanya menjadi perayaan, tetapi juga gambaran kuat kedekatan emosional serta penghormatan mendalam warga Madura terhadap warisan keulamaan Syaikhona Kholil.
Juga, dalam beberapa bulan terakhir, Bangkalan terus berbenah,
perbaikan infastruktur jalan dilakukan perbaikan menyeluruh di hampir semua
wilayah kabupaten. Banyak bermunculan anak-anak muda yang berani memulai dan
membuka unit usaha dan tradisi "kerja di luar daerah" sudah mulai
terkikis. Termasuk saya, membuka usaha di Bangkalan karena melihat potensi
geliat ekonomi kreatif anak mudanya berkembang.
***
Bangkalan, Tidak Kemana-mana dan Baik-baik Saja
Wa akhiran, ketika para netizen itu pergi mencari tontonan berikutnya, Bangkalan tidak akan kemana-mana, tidak juga perlu ada perkataan "sembuhkan Bangkalan" karena daerah ini akan baik-baik saja, Bangkalan tidak akan menjadi buruk. Mungkin, yang perlu diobati adalah cara berpikir ketika melihat sesuatu, cara memperlakukan cerita yang belum jelas, cara mencari kebenaran dari sebuah berita di media sosial, dan berhati-hati dalam berkata.
Tidak semua hal bisa dikomentari, tidak harus juga kita ada di semua tempat. Apalagi, bukan ranah dan kapasitas kita berada di sana. Kita tidak tahu, justru komentar dan konten serta tampilnya kita di media sosial memperkeruh masalah, menjadi sumber fitnah baru, membingungkan masyarakat, kemudian riak-riak perpecahan timbul di tengah-tengah masyarakat. Lebih lanjut, media kita menjadi tempat tambang dosa, dan selama postingan itu ada, dosa akan terus tertambang, menumpuk dan mengalir ila yaumil qiyamah.
Bangkalan, sekali lagi, sekarang, besok, lusa, dan selamanya akan baik-baik saja.

0 Response to "Bangkalan, Kota Santri yang "Berisik""
Posting Komentar