Gus, Antara Panggilan Budaya dan Pravilege
Gus, adalah gelar kehormatan khas Indonesia, khususnya dalam budaya Jawa dan lingkungan pesantren Nahdlatul Ulama. Secara historis, panggilan ini memiliki akar mendalam, pada percampuran budaya kerajaan dan tradisi keagamaan.
Di banyak penelitian, istilah Gus disimpulkan berasal dari kata Bagus; Yang tampan, baik, atau mulia. Di era kerajaan, putra-putra bangsawan atau keluarga keraton sering dijuluki Raden Bagus atau disingkat Den Bagus.
Gelar Gusti atau Den Bagus di seputaran keraton sudah dikenal pada abad 17, seperti di keraton Surakarta Hadiningrat masa Pakubuwono IV (1788 -1820 M), salah satu masa keemasan kerajaan Mataram Islam pasca Sultan Agung.
Seiring berjalannya waktu, terjadi penyederhanaan bahasa (sinkopasi). Kata Raden ditanggalkan, dan Bagus dipendekkan menjadi Gus agar mudah diucapkan, sapaan akrab namun tetap hormat.
***
Penggunaan gelar Gus kemudian familiar di lingkungan pesantren, karena posisi Kiai di masyarakat dianggap setara bangsawan (elit sosial). Faktor lain adalah genealogi, karena banyak Kiai keturunan bangsawan Mataram atau Majapahit. Saat meninggalkan gelar kerajaan, masyarakat tetap memberikan penghormatan dengan panggilan Bagus atau Gus.
***
Saat ini, gelar Gus berkembang, tidak hanya faktor biologis. Para sosiolog membagi tiga kategori, 1, Gus Nasab; Putra/cucu Kiai. 2, Gus Kultur; Bukan keturunan, dipanggil Gus karena keilmuan agama dan kharismanya. 3, Gus Menantu; Gelar seseorang yang diambil menantu Kiai.
***
Daerah lain, Gus memiliki istilah lain, seperti: Madura: Lora atau Bindereh (asal; Bendoro). Jawa Barat (Sunda): Asep, Ujang, atau Cepi. Di Lombok dan tempat lain menggunakan Gusung dan Tuan Guru.
Ala kulli hal, panggilan Gus sebenarnya mengandung beban moral besar, ia harus menjadi teladan dalam akhlak dan ilmu. Gelar budaya, bukan klaim pribadi atau ujub tingkat kecamatan. Kalau tidak, seperti sekarang, dunia ‘Gus-gusan’ sedang ‘kacau’ dan aneh.
Tapi, pravilege panggilan Gus sekali lagi hanya gelar budaya yang disematkan masyarakat setempat. Tidak perlu klasifikasi dan sertifikasi juga. Jadi, istilah Gus asli dan Gus naturalisasi? Pasti, bahasa itu dari pegila bola! Wkwkwkwk...

0 Response to "Gus, Antara Panggilan Budaya dan Pravilege"
Posting Komentar