Mengobarkan Cahaya Literasi di Cahaya Qur’an

Pelatihan Media SMP Cahaya Qur'an oleh H. R. Umar Faruq

Satu bulan sebelumnya, adik perempuan saya melahirkan, karena padatnya aktivitas, keluarga meminta saya pulang pas acara selamatan 40 hari lahirnya keponakan. Dari perbincangan kecil bersama istri juga, kami memutuskan pulang dan menghabiskan weekend di Madura.

Tapi, beberapa hari sebelum acara, ada dua surat elektronik masuk. Pertama permintaan SMP Cahaya Qur’an, Tritunggal, Babat untuk mengisi pelatihan media. Kedua, kewajiban organisasi untuk hadir di Muskerwil RMI PWNU Jatim di Bojonegoro. Masya Allah...

Selama 24 jam, saya biarkan surat elektronik itu. Tanpa jawaban. Ke esokan harinya, saya mengambil keputusan agak berat, tidak pulang ke Madura dan mengiakan undangan SMP Cahaya Al-Qur’an, serta hadir Muskerwil di PP Al Fatimah, Bojonegoro.

Adik perempuan saya telepon, meminta maaf tidak bisa pulang. Walaupun merengek dan marah-marah kerena sejak anaknya lahir sampai acara 40 hari tidak pulang, ia sedikit melunak ketika saya pastikan hari Senin setelah dari Bojonegoro akan pulang ke Madura. Selanjutnya, saya harus merayu istri, wajahnya sedikit ditekuk, karena rencana jalan-jalan menghabiskan weekend bersamanya kandas! Wkwkwkwk...

***

Ala kulli hal, punya waktu singkat, saya berangkat ke SMP Cahaya Qur’an dengan harapan besar. Bukan sekadar berbagi teknik pengelolaan media sosial dan literasi digital yang baik, melainkan harapan dari rahim lembaga pendidikan Islam, akan lahir generasi yang tidak hanya kuat hafalan Qur’annya, tetapi juga kreatif dan cakap dalam literasi media.

Terkhusus adik-adik di SMP Cahaya Qur'an, harapannya tunggal: literasi media mereka harus berlandaskan cahaya ilahiyah yang ada di dada mereka, yaitu Al-Qur'an.

Betapa luarbiasa ketika siswa-siswi Al-Qur’an itu menggunakan kekuatan pena dan platform digital bukan untuk menyebarkan kebenaran (Al-Haq) dan kebaikan (Al-Khair). Dan, prinsip jurnalistik mereka sesuai dengan Al-Qur'an. Jurnalis media yang berkepribadian Qur’ani. Subhanallah...

Tangan lembut mereka yang biasa memegang mushaf, akan memegang pena atau keyboard. Memproduksi konten berfaedah. Dari tatapan mata bening dan semangat mereka, saya melihat banyak benih-benih potensial seorang jurnalis dan kreator handal.

Semoga cahaya literasi dan media berkobar dari SMP Cahaya Qur'an, akan banyak jurnalis muda yang bertumbuh dengan karakter Qur'ani, yang akan menerangi media sosial dengan cahaya kebenaran dan kebaikan. Melahirkan tulisan-konten-dakwah yang berakhlak, menyejukkan, mencerahkan, berlandaskan Islam Rahmatan lil Alamin ala Ahlu Sunnah wal Jamaah.

Wa akhiran, tentu saya tidak sendirian, di Yayasan Cahaya Qur’an sudah ada pegiat media yang mumpuni. Seperti Ust. Shorikh Kholid dan Ustadzah Farakh yang terus memproduksi konten dan literasi yang ciamik. Selesai pelatihan, di sisa waktu yang sedikit, saya berdiskusi dengan beliau, bagaimana dengan segera mengorbitkan lebih banyak lagi generasi literasi di Cahaya Qur’an.

Dan, kami sepakat, untuk dibahas lebih panjang di lain kesempatan, sambil ngopi.

Tritunggal, 6 Desember 2025

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Mengobarkan Cahaya Literasi di Cahaya Qur’an"