Puasa Rajab Haditsnya Palsu, Aneh!

Di banyak media sosial, dari beberapa hari kemarin, ramai sekali para ‘ustadz’ agak ‘berisik’ mengatakan bahwa, Hadits puasa Rajab palsulah, bid’ahlah, dan lain sebagainya. Padahal, tradisi puasa rajab sudah ada sejak ratusan tahun lalu dan berkembang di nusantara. Kok, ada sekelompok ‘orang’ yang menyalahkan? Lucunya, ketika ia berdalil, cara bacanya salah! Ajiiiib...

Oke, kita lanjutkan ke anjuran puasa di bulan haram (mulia), Rasulullah SAW bersabda:

صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ صُمْ مِنْ الْحُرُمِ وَاتْرُكْ

“Berpuasalah pada bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah! Berpuasalah pada bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah! Berpuasalah pada bulan-bulan mulia dan tinggalkanlah!” (HR Abu Dawud dan yang lainnya).

Hadits ini menjelaskan anjuran berpuasa di bulan-bulan mulia semampunya saja (lakukan dan tinggalkan). Dan, Hadits tersebut ditulis oleh Sayyid Abu Bakar Syattha, di kitab I’anatut Thalibin, (juz I, halaman 307).

Dan masyhur sebagaimana sering disebut oleh Rasulullah SAW dalam banyak Haditsnya. Bahwa, Rajab adalah salah satu di antara empat bulan mulia, selain Muharram, Dzul Qa’dah dan Dzul Hijjah. Hal ini dipertegas oleh pendapat Imam Al Ghazali dalam kitab Ihya Ulumuddin juz 3 halaman 431 menyebutkan bahwa kesunnahan berpuasa lebih ditekankan pada hari-hari yang memiliki kemuliaan.

***

Hadits Maudlu’ (palsu)?

Berkenaan dengan beberapa hadits bulan Rajab, Imam As-Sayuthy menjelaskan dengan rinci pertanyaan kepada beliau di kitab Al Hawi lil Fatawy:

مسألة : …في في حديث أنس قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ( إن في الجنة نهراً يقال له رجب ماؤه أبيض من اللبن وأحلى من العسل من صام يوماً من رجب سقاه الله من ذلك النهر ) ...وحديث ابن عباس قال رسول الله صلى الله عليه وسلّم : ( من صام من رجب يوما كان كصيام شهر ، ومن صام منه سبعة أيام غلقت عنه أبواب الجحيم السبعة ، ومن صام منه ثمانية أيام فتحت له أبواب الجنة الثمانية ومن صام منه عشرة أيام بدلت سيئاته حسنات ) هل هذه الأحاديث موضوعة؟

الجواب : ليست هذه الأحاديث بموضوعة بل هي من قسم الضعيف الذي تجوز روايته في الفضائل أما الحديث الأول فأخرجه أبو الشيخ بن حيان في كتاب الصيام والأصبهاني وابن شاهين كلاهما في الترغيب والبيهقي وغيرهم قال الحافظ إبن حجر : وليس في اسناده من ينظر في حاله سوى منصور بن زائدة الأسدي

وأما الحديث الثالث فأخرجه البيهقي في فضائل الأوقات وغيره وله طرق وشواهد ضعيفة لا تثبت إلا أنه يرتقي عن كونه موضوعاً

Tentang Hadits riwayat, Anas Rasulullah berkata: “sesungguhnya di dalam surga ada sebuah sungai yang disebut dengan Rajab, airnya lebih putih dari susu dan lebih manis dari madu. Barangsiapa yang berpuasa pada bulan Rajab, niscaya Allah akan memberinya minum dari sungai tersebut.” Dan hadist Ibnu Abbas, Rasulullah berkata: “Barangsiapa yang berpuasa di bulan Rajab sehari niscaya seperti puasa sebulan. Barangsiapa yang berpuasa tujuh dari di bulan Rajab niscaya dikuncikan baginya tujuh pintu neraka Jahim. Barangsiapa berpuasa selama delapan hari niscaya dibukakan baginya delapan pintu surga. Barangsiapa berpuasa dalam bulan Rajab selama sepuluh hari niscaya digantikan keburukannya dengan kebaikan.”

Apakah semua hadist ini maudhu’ (palsu)? Tidak, Hadits-hadits ini bukanlah hadist maudhu’ (palsu) tetapi merupakan bahagian dari hadist dhaif yang boleh diriwayatkan pada fadlailul a’mal (keutamaan beramal).

Hadist pertama diriwayatkan Abu Syeikh bin Hayyan dalam kitab Ash-Shiyam dan diriwayatkan Al-Ashbihany dan Ibnu Syahin dalam kitab Targhib dan juga diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dan lainya. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani berkata tidak ada pada sanadnya perawi yang perlu ditinjau keadaannya selain Manshur bin Zaidah al-Asady.

Adapun hadits yang ketiga, diriwayatkan oleh Imam Baihaqi dalam kitab Fadhail Auqat dan kitab yang lain. Hadits ini juga memiliki thariq dan syahid (pendukung) yang dhaif yang tidak stubut, tetapi jauh dari keadaanya sebagai hadits maudhu’ (palsu). (Imam as-Suyuthi, Hawi lil Fatawy jilid 1 hal 339 Beirut, Dar Kutub Ilmiyah tahun 2000)

Ibnu Hajar juga mengalami pertanyaan serupa dengan jawaban serupa, sebagaimana dituliskan beliau di Fatawa Kubra Fiqhiyyah jilid 3 hal 86, Dar Fikr.

Dan banyak ulama menuliskan keutamaan berpuasa di bulan Rajab, seperti Imam Baihaqi dalam kitab Fadhail al-Auqat, beliau menerangkan beberapa Hadits tentang keutamaan bulan Rajab pada bab Fi Fadh Syahr Rajab hal 19, dan juga dalam kitab Syu’ab al-Iman pada Fash Takhsish Syahr Rajab bi zikr.

Dalam tradisi tradisi Ahlussunnah wal Jama’ah, sebagaimana disepakati Ulama Salaf bahwa, mengamalkan hadis dhaif dalam konteks fadlailul a’mal diperbolehkan.

Hal ini ditegaskan oleh Syaikhul Islam Al Imam Al Hafidz Al Iraqi dalam Tabshirah wat Tadzkirah mengatakan: “Adapun hadis daif yang tidak maudhu’ (palsu), maka para ulama telah memperbolehkan mempermudah dalam sanad dan periwayatannya tanpa menjelaskan kedaifannya, apabila Hadits itu tidak berkaitan dengan hukum dan akidah, akan tetapi berkaitan dengan targhib (motivasi ibadah) dan tarhib (peringatan). Seperti nasihat, kisah-kisah, fadlailul a’mal dan lain- lain.”

***

Wa akhiran, dakwah di media sosial sejatinya adalah membangun jembatan, bukan dinding. Seorang tokoh agama hendaknya mengedepankan adab, kebijaksanaan dan tentu kedalaman ilmu yang mumpuni, terutama saat menyikapi tradisi masyarakat yang sudah mengakar.

Alih-alih menyalahkan secara kaku atau menyesatkan, dakwah akan lebih indah jika disampaikan dengan bahasa yang sejuk, merangkul, dan penuh empati. Dengan menunjukkan wajah Islam yang Rahmatan lil Alamin, pesan kebaikan dapat tersampaikan tanpa melukai perasaan, sehingga persatuan umat tetap terjaga di tengah derasnya arus informasi digital.

Pendapat dan dahwah itu mbok ya yang adem kayak ubin masjid. Jangan dikit-dikit 'sesat', dikit-dikit 'salah'. Ingat, netizen itu kalau dikerasin bukan jadi saleh, malah jadi admin akun gosip. Wkwkwkwk...

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Puasa Rajab Haditsnya Palsu, Aneh!"