Gerakan Pena Santri Mambaul Ulum Banjarejo

Bersama Santi Putri Mambaul Ulum Banjarejo

Siang itu, setelah shalat Jum’at di Kota, saya tancap gas ke Malang Selatan. Tujuannya; PP Mambaul Ulum di Banjarejo, Pagelaran. Agak jauh memang, tak apalah, walaupun malam harinya mengisi pelatihan di Batu dan ngobrol plus diskusi dengan para Asatidz PP Zawiyah Duru Al-Utsmaniyah sampai Subuh. Waktu terasa padat nian!

Semangat membersamai teman-teman santri bermedia mungkin menjadi motivasi untuk tetap berangkat, walaupun badan sudah low baterai, okelah, demi dan atas nama bangsa dan negara. Budalkan!

Kenapa? Menurut pengamatan saya yang sederhana, karena meskipun pesantren di Malang Selatan bejibun, ratusan, atau malah ribuan mungkin, media pesantren mereka banyak yang 'segan-segan' alias nggak ngegas!. Istilah pesantrennya, la yahya wala yamut...

Di Mambaul Ulum Banjarejo sendiri, medianya memang ada, tapi masih malu-malu. Ibaratnya, punya lapangan bola bagus, tapi bolanya jarang ditendang. Saya lihat, kreativitas dan bakat para santri —mulai dari ilmu agama sampai ide-ide kreatif belum dimaksimalkan.

Perangkat media? Ada, akses internet? Bagus, akun media? Bisa dibilang lengkaplah. Mungkin, seperti kasuistik yang terjadi di banyak pesantren atau lembaga, tidak ada dorongan kuat dari pelaku media hingga santri/siswa tidak tahu mulai dari mana, kedua, wadah kreativitas yang masih terbatas.

Alhamdulillah, ada 30an santri putri yang ikut, beberapa santri putra juga nimbrung. Dari pertemuan singkat dengan mereka, semangat berkreasi dan menulis serta aktif di media terlihat besar. Subhanallah...

*** 

Takut kehilangan momentum, saya meminta kepada pihak keluarga pondok dan pengurus untuk membentuk keredaksian Mambaul Ulum sebagai wadah resmi kreativitas santri. Dengan manajemen dan pengaturan media itu, diharapkan media di Mambaul Ulum bisa terorganisir dan produksi konten berjalan dengan baik.

Setelah Shalat Maghrib, dengan tenaga tersisa, bersama asatidz dan santri terpilih di keredaksian media Mambaul Ulum yang kemudian bernama; El-Fath, kami melakukan diskusi, sharing, dan memantapkan hati untuk mendirikan wadah kreasi bagi santri berupa Mading dan Buletin. Ciamik!

Bangkitkan Pena! Demikian kalau boleh saya simpulkan ketika 8 jam saya di Mambaul Ulum Banjarejo. Saya hanya ingin, dari pesantren ini, akan lahir banyak penulis handal dan kreator-kreator santri yang menghiadai media sosial.

Ala kulli hal, beberapa hari kemudian, ketika oret-oretan ini dibuat, saya percaya, saya yakin, mading dan buletin Mambaul Ulum yang akan terbit beberapa hari ke depan adalah panggung bagi santri untuk mengskpresikan ide, opini, dan suaranya kepada masyarakat global.

Dengan santri aktif menulis, maka dunia luar akan tahu betapa keren dan luhurnya kehidupan di pesantren, luasnya pemikiran santri, serta cahaya keilmuan tersebarkan dari Mambaul Ulum. Pokoknya, kita bikin media pesantren ini 'hidup' lagi, seru, dan bikin bangga!

 

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Gerakan Pena Santri Mambaul Ulum Banjarejo"